Profile Facebook Twitter My Space Friendster Friendfeed You Tube
Kompas Tempo Detiknews
Google Yahoo MSN
Blue Sky Simple News Simple News R.1 Simple News R.2 Simple News R.3 Simple News R.4

Sabtu, 03 Oktober 2009 | 23.01 | 0 Comments

PURA MAJAPAHIT DI BALI


 Tampak nya yang namanya bangunan tempat Suci tidak dibayangkan ada yang membenci. Begitu juga Pura Majapahit. Sah Sah saja sebuah desa yang pernah menjadi Pusat Kebesaran Majapahit tempo dulu. Sayangnya begitu Pura berdiri tanpa pernah merugikan orang lain, toh sering mendapat tekanandari orang orang tertentu, yang tidak ingin ada tempat suci selain tempat suci agama yang tidak menyukai adanya Pura. Lantas ada apa dengan Pura Majapahit Trowulan ? Menurut Hyang Suryo, yang pernah lama di Bali Sudah sejak dulu mendapat tekanan tekanan dai orang orang tertentu dengan lebel Agama[islam] Padahal dirinya sudah memberikan pemaparan bahwa Pura itu sebagai wadah atau wahana pemersatu komponen umat yang kini telah kehilangan jejak, Jejak yang dimaksud Hyang adalah umat Nusantara sudah lupa Leluhur, dan tidak pernah ELING kepadayang memberikan kehidupan dari awal. Tekanan tekanan tersebut sampai sekarang masih berlangsung, padahal terdapat upacara sejenis yang dilakukan oleh krama sekitar pura, Namun tak pernah di gubris, anehnya Hyang Suryo menerima tamu dari Bali, dansekitarnya dan melakukan sembahyangan dan dikatakan menyebarkan Hindu. Bulan Agustus yang lalu {tahun 2002-red} diincar oleh Teroris Bahkan Pura Majapahit satu satunya di Trowulan hendak di BOM, BUkan sebatas intervensi, lebih menyakitkan dengan dukungan Aparat, Pura mau dirobohkan oleh massa yang habis melakukan sembahyang jum'at' untungnya Perobohan Pura dapat digagalkan oleh empat ulama. Sampai sekarang mereka belum mampu melakukan pemboman. Entah siapa atau kekuatan gaib apa yang melindungi, ternyata dua bulan berikutnya tepepatnya 12 Oktober 2002 malah Bom meledak di Pulau Seribu Pura. Hyang merasa kaget, Ternyata incaran untuk mengebom Pura di Trowulan tidak dapat dilakukan, namun niat jahat Teroris mampu menembus BAli. Akibat lain Pura yang menjadi Sungsungan Pretisentana Majapahit, disegel begitusaja oleh Aparat yang mengaku bermoral Pancasila. Sampai Rumah Hyang disegel, serta Pura sekarang telah seteril berbagai kegiatan upacara oleh aparat Kecamatan, serta desa dan mendapat persetujuan dari Muspika.Bahkan di rumah Hyang pernah ada pengumuman resmi dengan dasar hukumnya, beberapa keputusan bersama mentri, melarang aktivitas agama di Pura Majapahit. Terang saja imbuh Hyang berambut panjang, merasa berang, pasalnya kasihan umat Hindu yang jauh jauh datang dari Bali, Jakarta, Surabaya untuk sembahyang tidak boleh dilakukan. Bahkan umat yang datang ber bis bis sia sia saja, dan hanya bisa mengelus dada, dengan kondisi yang tidak nyaman, dan kurang kondusip, akhirnya semua Pratima Majapahit diboyong ke Bali. Dan kini Nyejer di Bali selama suasana kembali normal, namun Hyang merasa tidak sreg, dan merasa mendapat perlakuan tidak adil di Negrinya sendiri, Keyakinannya dianak tirikan oleh pihak pihak tertetu, Anehnya pihak Aparat begitu saja memberikan dukungan[ kepada Teroris] sehingga ada kesan tidak melindungi rakyat Indonesia. Padahal menurut keyakinan Hyang semua Pejabat apapun agamanya dulu adalah Keturunan Majapahit. Hyang tidak pernah memasalahkan agama, yang penting tujuannya adalah rukun, damai dan selalu memunculkan sikap toleransi. Bukan sebaliknya sikap antipati yang diberikan kalangan pejabat. Ketika Pretime nyejer di Bali Hyang merasa bangga dan kagum, dimana umat berbondong bondong untuk melakukan sembahyang mendekatkan diri dengan Leluhurnya. Walaupun mereka sudah kental di Bali, namun rasa rindu untuk dapat menyatukan diri dengan Sang WIT , terwujut dengan nyejer di Kintamani, Bangli dengan waktu yang tidak ditentukan. Menunggu suasana kondusipdi Pura Majapahit di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur {BALI AGA Edisi 06  12 Maret 2003} Kini Pura Ibu Majapahit telah berdiri Megah di Jimbaran {Puri Gading} Sudah Odalan yang ke 5X nya 9-9-2009 yang lalu. dan tetap mengagumkan dan membanggakan dukungan Umat yang selalu berbondong bondong datang bersembahyang memohon kerahayuan dan kerajengan pada Ibu Nusantara WIT bersama, sebagai hal nya waktu pertama nyejer. Sesuai sloka lontar "Negarakertagama" Maka gembiralah Roh Sri Rajapatni di Alam Budaloka, hingga dapat memberikan Kejayaan pada Narendra Utama selama bulan dan surya bersinar. ditulis ulang dan dipublikasikan Gusti Heker 4-10-2009.

0 comments:

Poskan Komentar

 
Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by Herdiansyah Hamzah | Published by Jurnalborneo.com
Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.